- sponsor -

Penggunaan mata uang kripto sebagai alat bayar masih menjadi kontroversi di beberapa negara. Pihak yang pro menilai kripto sebagai mata uang di masa depan, karena lebih terlindungi dibanding bank.

Sedangkan pihak yang kontra menilai kripto lebih sering dimanfaatkan sebagai tempat pencucian uang dan pembiayaan kegiatan criminal seperti terorisme. Di negara – negara Asia, penggunaan cryptocurrency sebagai alat bayar juga masih mendapatkan perdebatan.

Di Indonesia misalnya, baru – baru ini MUI mengeluarkan aturan yang menyatakan bahwa kripto haram diperdagangkan. Meskipun demikian, sudah banyak masyarakat yang terjun ke dunia cryptocurrecy tersebut, dan banyak juga yang tetap tertarik menggelutinya.

Rusia yang awalnya secara tegas menolak kripto kini mulai mempertimbangkan manfaat positif cryptocurrency. Presiden Putin kabarnya sudah menyuruh bank sentral Rusia dan pemerintahan terkait untuk mengatur regulasi terkait kripto tersebut.

Thailand Meresmikan Kripto Sebagai Alat Tukar yang Sah

Pemerintahan Thailand nampaknya mengambil langkah lebih berani, karena negara tersebut secara resmi telah mengumumkan bahwa aset kripto diakui secara sah sebagai alat tukar. Bank of Thailand, Komisi Sekuritas dan Bursa Thailand, dan Kementarian Keuangan Thailand bersama – sama mengumumkan hal tersebut.

Pemerintahan Thailand membuat keputusan tersebut setelah meninjau manfaat dan risiko yang dihadirkan aset kripto. Secara resmi Thailand menjelaskan bahwa tujuan utamanya untuk mencegah potensi dampak dan stabilitas keuangan negara tersebut.

Meski sudah mengizinkan kripto sebagai alat tukar, regulator keuangan di Thailand tetap fokus pada pengawasan dan mewaspadai risiko yang dihadirkan untuk pelaku bisnis dan konsumen.

Mata uang kripto memang masih cukup rentan dalam hal volatilitas harga, keamanan data pribadi, pencucian uang serta pecurian siber. Oleh karena itu, Regulator keuangan Thailand akan menggunakan kekuasaan sesuai hukum yang telah dibuat, untuk membatasi penggunaannya secara lebih luas.

Thailand Resmi Umumkan Kripto Sebagai Alat Tukar yang Sah

Pertumbuhan Cryptocurrency di Thailand Semakin Pesat

Salah satu pertimbangan pemerintahan Thailand meresmikan cryptocurrency di negara tersebut adalah karena antusias masyarakatnya begitu tinggi. Thailand termasuk salah satu negara yang pertumbuhan pasar kriptonya begitu melesat.

Beberapa hari sebelumnya, ada keinginan pemerintah Thailand untuk melarang penggunaannya sebagai alat tukar. Namun setelah menimbang lebih dalam, Thailand memutuskan mengizinkan kripto sebagai alat pembayaran yang sah.

Kabarnya, uang kripto yang akan digunakan di Thailand bukan kripto yang sudah populer seperti Bitcoin atau Ehereum, melainkan meluncurkan sendiri token utilitasnya. Toke utilitas tersebut akan diberi nama koin TAT. Koin TAT ini sebenarnya sudah dirancang sejak tahun 2021 lalu.

Mata Uang Kripto yang Diakui Resmi di Indonesia

Mata uang kripto seperti Bitcoin dan sejenisnya sudah menjadi perbincangan publik sejak lama di Indonesia, mengingat mata uang ini dinilai sebagai salah satu instrument investasi paling menjanjikan. Di Indonesia sendiri soal legalitasnya kerap mendapatkan kontroversi di publik.

Bappebti selaku Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) akhirnya menetapkan keputusan terkait legal tidaknya mata uang kripto tersebut. Bappebti secara resmi telah mengumumkan mata uang kripto apa saja yang diakui dan boleh diperdagangkan.

Dari data yang dikeluarkan oleh Bappebti terdapat 229 mata uang kripto yang sudah mendapatkan legalitas untuk diperdagankan oleh investor kripto di dalam negeri. Data lengkap 229 cryptocurrency tersebut dapat dilihat di website resmi Bappebti.

Pemberian izin terhadap 229 mata uang kripto tersebut dilakukan melalui proses hukum. Pertama, pendakatan yurudis dilakukan, sebagai mana diatur dalam Pasal 3 ayat 2C Perba no 5 tahun 2009.

Beberapa dari cryptocurrency yang mendapatkan izin Bappebti tersebut seperti Bitcoin, Ethereum, Tether, Xrp/ripple, Binance Coin, Polkadot, dan yang lainnya.

 

- sponsor -