- sponsor -

China kembali lagi menjadi Pusat Tambang BTC Terbesar Ke-2 meskipun negara ini telah terapkan larangan aktivitas tambang sejak 1 tahun lalu. Menurut statistik, BTC masih sangat melimpah dari China, dan menurut South China Morning Post, tampak ada tambang raksasa di sana.

Statistik yang Cambridge Centre for Alternative Finance (CCAF) telah membagikan data yang cukup mencengangkan. Bitcoin dan seluruh aktivitas tambang mereka masih sangat besar di China. Padahal sejak tahun lalu, aktivitas tambang kripto sudah dilarang oleh pemerintah.

China dianggap telah berkontribusi pada 20% Bitcoin secara keseluruhan. Namun, recovery yang tidak cukup cepat membuat China turun menjadi yang ke-2 di dunia, dibawah AS. Tetapi yang mengherankan adalah bagaimana bisa tambang BTC ini masih beroperasi di China.

Sejak September hingga Januari, hampir 1/5 dari BTC dunia diproduksi oleh China. Transaksi pembelian token ini dari pusatnya langsung juga sering dilakukan. Sehingga ada yang merasa kalau sistem banning yang diterapkan masih kurang efektif dan atau ada yang lain?

Data Menunjukkan Kalau Ada Tambang Bitcoin Raksasa di Bawah Tanah China

Koran crypto - Data Menunjukkan Kalau Ada Tambang Bitcoin Raksasa di Bawah Tanah China

Dari data yang ditunjukkan oleh CCAF, banyak yang menyarankan untuk penelitian lebih lanjut mengenai aset ini. Menurut banyak analis juga kalau pastinya ada pusat operasi skala kecil. Di sisi lain, ada banyak kecurigaan kalau China sendiri yang menyembunyikan operasi BTC.

CCAF mengatakan kalau otoritas China dengan sengaja mendirikan pusat tambang BTC yang ada di bawah tanah. Bahkan mereka cukup yakin kalau melihat seluruh data ini, tambang ini dalam ukuran yang sangat besar. Tujuan banning itu sendiri adalah agar lebih untung.

Melihat traffic elektifikasi dan lainnya di China juga cukup mengherankan. Perlu waktu yang banyak untuk pusat operasi skala kecil bisa berkembang. Tetapi sejak China melarang mining BTC di sana, penambang dapat dengan cepat beradaptasi dengan kondisi berbeda itu.

“Akan butuh banyak waktu untuk China membangun pusat dan fasilitas tambang skala besar, dan tidak mungkin hanya dibangun selama kurang dari 1 tahun. Tidak mungkin juga kalau penambang China bisa beradaptasi dengan begitu cepat dengan fasilitas itu,” ucap CCAF.

CCAF juga menyambung, “Karena banning ini tidak masuk akal, kami sangat percaya diri kalau China dengan sengaja membangun dulu fasilitas operasi tambang di lokasi yang tidak banyak diketahui, dan ini dilakukan jauh sebelum pemerintah melakukan banning pada aset itu.

3 Alasan Tetap Memilih China Sebagai Pusat Tambang BTC Terbesar

Korancrypto - 3 Alasan Bitcoin Tetap Memilih China Sebagai Pusat Pertambangan

Di sisi lain, banyak penambang kripto di China yang mengatakan kalau komputer atau mesin khusus mereka sengaja dipasang alat VPN agar tidak menggunakan Proxy dari negara China. Tetapi ini cukup mengherankan juga karena konsumsi energi listrik yang tidak masuk akal.

Tetapi jika banning ini tetap berlaku, para penambang kripto pasti tetap akan memilih China sebagai pusatnya. Alasan paling utama adalah karena cadangan energi listrik yang masih ada banyak, serta harga listrik di China yang jauh lebih murah ketimbang area strategis lain.

Ada juga faktor lain yang disebabkan oleh cadangan batu bara yang masih melimpah, dan ini menjadi bahan awal tambang BTC dengan cepat. Fasilitas operasi sebelum banning juga ada banyak, sehingga ini juga yang menyebabkan China lebih atraktif untuk dipilih jadi pusat.

Ada aktivitas yang sangat aneh di ranah BTC, yaitu tambang mereka di China masih sangat produktif dalam memenuhi permintaan 20% dari token dunia. Padahal pemerintah China ini sudah ban seluruh aktivitas mining. Tetapi ahli yakin ada tambang BTC bawah tanah.

- sponsor -