- sponsor -

Penyebab Harga Kripto Turun – Mayoritas harga aset mata uang digital (kripto) mengalami pelemahan pada perdagangan terbaru. Bersamaan dengan penyelenggaraan simposium Jackson Hole, kegiatan rutin tahunan bank sentral AS pada Jumat pagi 27/08/2021.

Terdapat setidaknya 6 mata uang digital bergerak melemah menjadi tidak stabil memasuki zona merah. Hal ini dipaparkan oleh CoinMarketCap. Setelah sepat menyentuh rekor tertinggi, tidak lama kemudian jatuh lagi.

Bitcoin melemah 2,97% ke harga US$ 47.349 per keping, atau setara Rp 682.775. Sedangkan Ethereum juga turun 2,77% menjadi US$ 3.128, hal yang sama terjadi pada Cardano, turun hingga 5,41%.

Binance Coin juga merosot 5,3% ke harga US$ 483,79, Ripple merosot 6,42% menjadi US$ 1,09, sedangkan Doge Coin turun 6,22% ke US$ 0,2725. Mengapa rata-rata aset kripto mengalami penurunan?

Penyebab Harga Kripto Turun Karena Kebijakan Tapering Off the Fed

Penyebab Harga Kripto Turun Karena Kebijakan Tapering Off the Fed | Koran crypto

Mayoritas pejabat Bank Sentral Amerika Serikat, atau dikenal dengan istilah (The Fed) sepakat mengurangi transaksi obligasi serta aset lainnya sebelum pergantian tahun. Sebagaimana dikatakan ketua Bank Sentral AS, Jerome Powell.

Apabila tapering dilakukan dalam jarak dekat, maka seluruh bursa efek mempunyai risiko tertekan, termasuk perdagangan aset kripto. Walaupun dampaknya hanya terasa selama jangka pendek. Namun tetap saja mempunyai pengaruh.

Tapering tidak bisa berjalan tanpa adanya quantitive easing (QE), yakni kebijakan The Fed untuk mempercepat pemulihan ekonomi setelah terjadi krisis atau resesi. Sistemnya dilakukan dengan membeli obligasi secara rutin.

Saat krisis terjadi, The Fed membeli obligasi jangka panjang. Hal ini memungkinkan korporasi dan bank mempunyai dana untuk diputar. Obligasi disini biasanya berupa surat utang pemerintah atau kredit perumahan.

Dana hasil penjualan menjadi rangsangan ekonomi bagi Amerika Serikat saat resesi. Kebijakan semacam ini sudah pernah dilakukan saat resesi tahun 2008, dan kembali diterapkan ketika dunia mengalami pandemi.

Namun apabila pasokan uang semakin deras, inflasi bisa makin menjadi kemudian malah menurunkan nilai tukar mata uang dolar AS. Kebijakan tapering ada karena The Fed merasa perlunya mengurangi pembelian obligasi.

The Fed menyatakan kebijakan moneter ini dilakukan secara bertahap sampai di titik tidak lagi melakukan pembelian obligasi. Terlalu banyak rangsangan atau stimulasi ekonomi bisa menyebabkan perekonomian menjadi overheat.

Namun pihak The Fed sangat berhati-hati dan terus berupaya untuk komunikatif dalam proses normalisasi stimulus ekonomi ini. Hal ini dilakukan untuk menghindari ekspektasi pasar yang memicu fluktuasi.

The Fed akan menyebutkan secara jelas jumlah penurunan berkala, serta kondisi seperti apa akan diberlakukan kebijakan moneter tersebut. Pemerintah negara lain yang terdampak merasa was-was dengan hal ini.

Bahaya Taper Trantum, Apakah Terulang?

Bahaya Taper Trantum, Apakah Terulang? | Korancrypto

Kebijakan tapering yang diprakarsai The Fed pada 2013 silam ternyata memicu taper tantrum, meskipun sudah diperhitungkan secara hati-hati. Investasi asing di kala itu sempat mendominasi, namun kemudian menarik diri.

Langkah moneter ini sedikit banyak berdampak bagi negara lain, contohnya Indonesia. Pada tahun 2013, IHSG sempat jatuh di level 3994. Dana asing terus keluar dari pasar modal setiap hari.

Sejarah taper tantrum yang terjadi tahun 2013 kembali menghantui banyak negara pada tahun 2021 ini. Karena muncul sinyal akan dilakukan kebijakan serupa setelah pelonggaran kebijakan moneter selama masa pandemi.

Efeknya mulai terasa bagi pemerintah Indonesia, para pengusaha serta investor, dan juga perdagangan aset kripto. Terbukti dari pelemahan harga cryptocurrency yang terjadi hari ini. Hampir semua instrumen menurun.

The Fed adalah bank sentral penerbit mata uang dolar. Seluruh negara di dunia menggunakan dolar sebagai cadangan devisa. Kebijakan apa saja menyangkut peredaran dola bisa memiliki dampak pada perekonomian negara.

- sponsor -