- sponsor -

Di zaman serba canggih, berkembangnya berbagai jenis alat pembayaran seperti mata uang crypto membuat sebagian orang mempertanyakan keabsahannya dalam pandangan Islam Terhadap Crypto tersebut.

Alat transaksi ini berbentuk digital atau token digunakan untuk pembayaran. Seperti pertanyaan yang ditanyakan berikut ini. “Bagaimana pandangan Islam mengenai mata uang digital untuk melakukan transaksi?”

Cara kerja mata uang crypto ini berdasarkan pada teknologi bernama blockchain, yaitu suatu transaksi digital mengandung struktur melalui jaringan computer, catatan setiap orang akan terhubung dalam suatu daftar. Jenis mata uang kripto popular saat ini adalah bitcoin.

Setiap transaksi dari mata uang digital ini terhubung langsung dengan sistem blockchain. Sistem ini berupa buku kas digital yang tentunya dapat diakses oleh publik tanpa adanya pihak ketiga, contohnya adalah bank.

Di Indonesia, seseorang ketika ingin melakukan transaksi menggunakan mata uang digital ini dapat dengan mudah dilakukan dengan aplikasi yang disediakan perusahaan atau pedagang crypto tentunya sudah memperoleh izin dari Bappebti (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi).

Hukum Islam Terhadap Mata Uang Crypto

Korancrypto - Hukum Islam Terhadap Mata Uang Crypto

Terkait hukum muamalah terhadap cryptocurrency, ada beberapa lembaga fatwa keagamaan telah mengharamkan mata uang digital ini digunakan sebagai alat transaksi. Lembaga tersebut adalah Al-Azhar.

Majelis ulama Indonesia juga menyatakan bahwa melakukan transaksi dengan metode ini hukumnya haram. Oleh karena itu, kami akan menjawab pertanyaan yang ada terkait crypto ini dengan memandang kedua sisi.

Dalam kerangka Etika Bisnis yang diputuskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid pada Musyawarah Nasional XXVII di padang tahu 2003 berperan sebagai seperangkat norma bertumpu terhadap akhlak, akidah dan syariat diambil dari al-quran dan sunah digunakan sebagai tolak ukur pada kegiatan bisnis dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Hal pertama adalah crypto sebagai alat investasi. Mata uang ini memiliki banyak kekurangan saat ditinjau dari syariat Islam. Adanya sifat yang spekulatif sangat kentara. Contohnya adalah nilai bitcoin sebagai jenis mata uang ini sangat fluktuatif terhadap kenaikan dan keturunan tidak wajar.

Selain bersifat spekulatif mata uang crypto ini juga bersifat gharar artinya crypto mengandung ketidakjelasan didalamnya. Tidak seperti emas dan alat transaksi lainnya yang memiliki kejelasan terhadap nilainya.

Sifat spekulatif dan gharar inilah diharamkan oleh syariat sebagaimana firman Allah swt dan hadis Nabi saw dan tidak memenuhi tolak ukur Etika Bisnis menurut Muhammadiyah, khususnya dua poin dibawah.

Adapun Etika Bisnis Menurut Muhammadiyah

Selain mengetahui pandangan islam terhadap mata uang crypto ini, ada beberapa etika bisnis menurut Muhammadiyah yang harus Anda ketahui lebih lanjut, berikut penjelasannya:

Tidak boleh ada maisir

Maisir adalah suatu bentuk permainan yang didalamnya mengandung persyaratan. Tidak jauh berbeda dengan crypto, menjadikan mata uang digital ini haram menurut Muhammadiyah.

Tidak boleh ada gharar (spekulasi)

Dalam satu hadir yang diriwayatkan oleh Muslim dengan jelas bahwa Rasulullah melarang adanya jual beli gharar.

Hukum menetapkan syarat bagi muamalat adalah halal dan diperbolehkan kecuali terdapat dalil melarangnya. Penggunaan mata uang crypto ini sebenarnya memiliki skema sama dengan barter.

Disaat kedua belah pihak setuju dengan akad jual beli transaksi dan tidak merugikan atau melanggar peraturan yang ada. Menurut kami, standar mata uang dijadikan haruslah diterima oleh masyarakat dan selanjutnya diresmikan oleh otoritas bidangnya seperti bank sentral.

Dari hal-hal yang kami sampaikan, Anda dapat mengetahui terdapat banyak mudarat yang ada dalam crytocurrency, salah satunya yaitu bitcoin. Oleh sebab itu, kami menyimpulkan bahwa penggunaan mata uang crypto dalam melakukan transaksi adalah haram.

- sponsor -