- sponsor -

Pergerakan beberapa mata uang kripto mengalami peningkatan setelah nilainya masuk ke dalam zona hijau pada Kamis Kamis (29/7) pagi. Salah satunya adalah Nilai Uang Kripto Ripple (XRP) yang menguat sejak perdagangan kemarin.

Nilainya ternyata melonjak cukup drastis, yakni mencapai 10,89 persen ke US$0,7 per koin dalam 24 jam terakhir seperti yang dikutip dari coinmarketcap.com. Selengkapnya, simak ulasan selengkapnya di bawah berikut ini.

Di Balik Kenaikan Nilai Uang Kripto Ripple (XRP)

Di Balik Kenaikan Nilai Uang Kripto Ripple (XRP)

Nilai Ripple bergerak lebih tinggi setelah salah satu pengembang cryptocurrency mengumumkan bahwa mereka baru saja meluncurkan layanan On-Demand Liquidity (ODL).

Layanan tersebut merupakan fitur langsung untuk memfasilitasi transfer XRP melalui Koridor Pengiriman Uang Filipina (Filipino Remittance Corridor) Ke Negara Jepang.

Pihak Ripple sendiri sedang berkolaborasi dengan penyedia transfer uang terbesar di Jepang, SBI Remit, dan layanan dompet seluler terkemuka Filipina, Coins.ph.

Baik kerjasama yang Ripple dengan SBI Remit dan coins.ph diharapkan merealisasikan pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan terjangkau dari Jepang ke Filipina.

Pekerja Filipina di Jepang telah mengirim sekitar $1,8 miliar per tahun dalam mekanisme transfer kembali ke Filipina. Sekarang, ada lebih banyak uang daripada sebelumnya yang dikirim dalam bentuk kripto.

Di Balik Kenaikan Nilai Uang Kripto Ripple (XRP)

Sekilas Tentang Ripple (XRP) Sebagai Salah Satu Aset Kripto

XRP adalah mata uang digital asli untuk produk kripto yang dikembangkan oleh Ripple Labs. Salah satu produknya untuk menyelesaikan masalah pertukaran aset, sistem pengiriman uang dan keuangan yang sedang dialami.

Aset kripto ini bahkan digunakan secara luas untuk melayani layanan finansial internasional dan transfer keamanan yang digunakan oleh jaringan bank dan perantara keuangan. Meski demikian, ada sedikit perbedaan dengan bitcoin.

XRP sendiri sudah ditambang sebelumnya dengan menggunakan metode mining yang tidak terlalu rumit dibandingkan dengan Bitcoin. Pada tahun 2012, perusahaan masih dikenal dengan nama OpenCoin dan langsung mengubah arah bisnisnya.

Produk kirpto-nya yang bernama XRP, diluncurkan pada tahun 2012 dengan 80 miliar token masuk ke perusahaan dan 20 miliar ke co-foundernya. Tujuannya adalah melayani mekanisme pertukaran antara dua mata uang.

Baru pada September 2013, OpenCoin berubah menjadi Ripple Labs atau dikenal sebagai Ripple. Perusahaan tersebut menggambarkan dirinya sebagai jaringan pembayaran global dan melayani berbagai bank-bank besar dan layanan keuangan.

Diterapkan Secara Luas dan Nilai Masuk Zona Hijau

Diterapkan Secara Luas dan Nilai Masuk Zona Hijau

XRP kemudian digunakan secara luas lembaga keuangan dan bank-bank tersebut sebagai salah satu produknya, untuk memfasilitasi konversi cepat antara mata uang yang berbeda. Hal tersebut kini diterapkan oleh Jepang-Filipina.

Kedua negara menggunakan layanan ODL yang mempermudah pembayaran lintas, sehingga memungkinkan pelanggan untuk mentransfer dana menggunakan XRP. Proses tersebut pada akhirnya membuat transaksi relatif menjadi lebih cepat dan murah.

Hal inilah yang kemudian membuat nilai XRP naik secara signifikan. Menurut data CoinDesk 20, pembeli masuk sekitar $0,65 setelah Ripple mengumumkan kerjasama antara SBI Remit, layanan pembayaran seluler Filipina, Coins.ph.

Ini artinya, XRP telah masuk zona hijau karena penguatan nilai tersebut. Beberapa mata uang kripto lainnya juga mencatatkan kenaikan serupa, meski dengan nilai yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh banyak hal.

Beberapa penguatan nilai dialami bitcoin (BTC) sebesar 1,51 persen (US$39.729 per koin) USD Coin (USDC) 0,01 persen (US$1 per koin), dan polkadot (DOT) 1,39 persen (US$14,34 per koin).

Ada juga nilainya justru melemah seperti Ethereum (ETH) sebesar 0,25 persen di angka US$2.28 per koin, dan Binance Coin (BNB) 0,33 persen (US$310,86 per koin).

- sponsor -