- sponsor -

Bank sentral dari negeri tirai bambu yaitu PBOC atau People’s Bank of China resmi larang transaksi kripto. Segala transaksi yang berhubungan dengan mata uang kripto, termasuk bitcoin dan tether resmi dilarang di negara tersebut.

Semua layanan berbasis kripto termasuk penerbitan dan perdagangan koin hingga layanan dari bursa luar negeri. Kepada Warga Tiongkok yang berbasis kripto maupun mata uang turunannya secara tegas dianggap ilegal.

Penerapan larangan baru ini berefek ke berbagai hal, termasuk penutupan layanan oleh perusahaan penukaran mata uang kripto seperti Huobi dan Binance. Huobi dan Binance adalah dua perusahaan terbesar asal China yang melayani pertukaran mata uang kripto.

Setelah larangan resmi diberlakukan, dua perusahaan tersebut menutup layanan pendaftaran baru di websitenya. Secara tertib akan dilakukannya pemberhentian seluruh aktivitasnya untuk warga Tiongkok per akhir tahun ini.

Dampak dari Larangan Tersebut

Koran crypto - Dampak dari Larangan Tersebut

Aktivitas trading berbasis mata uang virtual seperti bitcoin yang tinggi pada negara terletak di Asia Timur ini tentu banyak berpengaruh setelah China resmi larang transaksi kripto. Para investor bitcoin di negara tersebut tentu khawatir dengan kabar baru ini.

Selain tutupnya semua layanan dan aktivitas dari dua perusahaan bursa kripto terbesar. Transaksi spot over the counter dan derivatif hingga saham dan dompet digital, harga bitcoin juga anjlok hingga 13,15 persen.

Setelah harga bitcoin anjlok di presentase 5,5% pada hari Jumat (24/9/2021), selanjutnya bitcoin terus anjlok pada angka 5,86% sekitar USD 41.106,98 setiap kepingnya atau Rp 583,7 juta. Jika dibandingkan pekan sebelumnya, bitcoin anjlok hingga 13,15%.

Padahal, investor bitcoin pada pasar global juga sedang khawatir akan kasus gagal bayar perusahaan pengembang properti besar di China, Evergrande. Namun, pada hari ini (28/9/2021) harga bitcoin telah berada pada USD 43.122,7 atau Rp 614.177.210,8,-.

Utang perusahaan raksasa real estate sebesar USD 300 miliar atau setara dengan Rp 4.275 triliun itu membawa pengaruh besar pada pasar keuangan secara global. Saham dari Evergrande juga dikabarkan telah anjlok hampir 80% secara year to date (ytd).

Dampak dari utang perusahaan yang disebut sekarang menjadi perusahaan properti dengan utang terbanyak itu membuat nilai bitcoin hingga ethereum merosot. Harga bitcoin jatuh hingga 8% setelah kabar utang tersebut, sementara ethereum ambruk pada angka 13%.

Alasan China Resmi Larang Transaksi Kripto

Korancrypto - Alasan China Resmi Larang Transaksi Kripto

Negara China selalu berusaha untuk membasmi perdagangan maupun transaksi lainnya dengan mata uang kripto. Pada 2017 lalu saja, pemerintahan China mengeluarkan larangan bagi perusahaan bursa penukaran kripto lokal menghentikan aktivitasnya di negara tersebut.

Di tahun 2019, bank sentral China ingin menghimpit semua transaksi kripto melalui larangan perdagangan mata uang asing. Mereka mengatakan akan memblokir semua akses transaksi mata uang kripto lokal maupun luar juga situs website Penawaran Koin Perdana.

Hal ini disebabkan karena industri keuangan di China menganggap bahwa perubahan harga yang fluktuatif mengganggu sistem ekonomi dan keuangan normal serta melanggar keamanan properti. Mereka menganggap transaksi yang spekulatif itu berisiko tinggi.

Penegasan larangan ini juga dilakukan karena bank sentral China atau PBOC mengemukakan bahwa mata uang virtual tidak memiliki nilai asli atau riil. Kontraknya juga tidak dilindungi oleh peraturan China, harga atau nilainya juga mudah dilakukan penyelewengan.

Transaksi mata uang virtual yang dapat merusak dunia investasi dengan kemungkinannya yang tinggi dipakai untuk penipuan dan transaksi ilegal membuat pemerintah China resmi larang transaksi kripto dengan maksud baik demi tatanan ekonomi yang stabil.

- sponsor -