- sponsor -

Kebijakan Bank Sentral Bank sentral Rusia berencana akan melarang investasi crypto. Hal ini dikarenakan adanya resiko stabilitas keuangan dari meningkatnya transaksi crypto di Negara tersebut. Sampai saat ini transaksi crypto sudah mencapai $ 5 milliar.

Bila larangan disetujui oleh parlemen maka ini akan berlaku untuk pembelian asset crypto baru, tidak termasuk pembelian lama. Pengetatan kebijakan terkait crypto ditunjukkan dengan resmi dilarangnya investasi reksadana dalam crypto seperti menggunakan bitcoin. Pengetatan kebijakan ini menyebabkan transaksi crypto turun menjadi $ 4,8 miliar.

Negara melarang pengelola dana untuk membeli crypto dan instrument keuangan lainnya yang nilainya dipengaruhi oleh harga asset digital. Peraturan tersebut menekankan reksadana tidak boleh memberikan eksposur crypto kepada semua nasabah. Meskipun belum ada larangan resmi, sampai saat ini belum ada reksadana yang dikeluarkan dengan eksposur crypto.

Bank sentral Rusia sedang menyiapkan laporan mengenai pandangan permasalahan ini dan saat ini sedang dalam posisi menolak semua jenis mata uang crypto. Rusia berpendapat bahwa crypto dapat digunakan untuk membiayai terorisme atau digunakan untuk pencucian uang.

Baru pada tahun 2020 dibuat peraturan legal tentang crypto namun dilarang penggunaannya untuk alat pembayaran. Semakin meningkatnya popularitas dan penggunaan crypto di Negara tersebut dapat menurunkan efisiensi kebijakan moneter. Melihat kebijakan di China tentang crypto, Rusia masih harus beradaptasi tentang itu.

Menilik Kebijakan Crypto di China

Korancrypto - Menilik Kebijakan Crypto di China

China adalah salah satu Negara yang menolak crypto, pada September lalu seluruh penambangan dan aktivitas crypto dilarang. China juga menekan saham crypto dan blockchain serta memukul koin – koin utama seperti bitcoin.

Di masa mendatang Rusia berencana memodernisasi keuangan dengan mengeluarkan mata uang digital yang berbasis Rubel agar mempercepat pembayaran dan melawan ancaman mata uang crypto.

Diketahui Rusia hanya mempunyai satu dana yang diperdagangkan di bursa pada industry ini. Dana itu dikelola oleh manajemen Broker Credit Service untuk diinvestasikan pada perusahaan blockchain dan penyimpanan data terdesentralisasi.

Bank Sber yang merupakan bank terbesar Rusia juga berencana mengeluarkan Exchange Traded Fund atau reksadana kolektif yang bisa diperdagangkan di bursa. Dapat digunakan untuk berinvestasi pada saham yang mengadopsi blockchain atau akan disebut juga Ekonomi Blockchain. Dana ini tidak berada dalam batasan bank Rusia dan bisa ditawarkan ke investor ritel.

Walaupun Bank Rusia sudah mengambil sikap tegas dalam melarang crypto, masih ada yang berpendapat bahwa keputusan ini akan beresiko besar karena tidak dapat mengakomodir kepentingan investor.

Kebijakan Bank Sentral Inggris Memukul Crypto

Koran Crypto - Kebijakan Bank Sentral Inggris Memukul Crypto

Pada perdagangan Jumat pagi, kripto berkapitalisasi besar seperti Bitcoin dan Ethereum kembali pada zona merah setelah sehari sebelumnya berada pada zona hijau. Ini dikarenakan bank sentral Inggris menaikkan suku bunga acuan.

Bank sentral Inggris menjadi bank Negara maju pertama yang menaikkan suku bunga acuan dari 0,1 % menjadi 0,25 % sejak pandemic di tengah situasi lonjakan inflasi yang terjadi. Hal ini dipicu karena inflasi Ingris berada pada level tertinggi sejak 10 tahun terakhir atau berada pada 5,1 %. Nilai tersebut lebih tinggi dari perkiraan yaitu 2 %.

Diketahui nilai bitcoin turun 2,53 % menjadi US$ 47.733,55 / koin atau berada pada harga Rp. 684.976.443 / koin. Ethereum turun 1,75 % menjadi US$ 3.964,96 / koin atau Rp. 56.897.176 / koin. Cardano dan Polkadot ambles dengan penurunan mencapai 4 %.

Pasar crypto mengalami tekanan jual yang tidak diinginkan sehingga investor mengalihkan pada investasi yang lebih menguntungkan, namun begitu prospek untuk jangka menengah dan panjang masih ada.

- sponsor -