- sponsor -

Harga Kripto Menurun || Cryptocurrency atau biasanya dikenal dengan harga mata uang kripto kembali lagi diperdagangkan di zona merah, pada hari Jumat 16 Juli lalu tepat siang hari waktu Indonesia, selanjutnya tampak juga pelemahan pada perdagangan di hari sebelumnya.

Pada pagi hari ini, beberapa masih diperdagangkan terlihat melemah. Untuk Bitcoin merosot cukup taja, 2,21 persen ke level 31.951 US dollars per koinnya atau pun setara dengan Rp. 463.300.085 per koin.

Sementara untuk Ethereum terlihat 1,19 persen ke 1.949 US dollars per koin atau jika masuk ke kurs rupiah sekitar Rp. 28.265.430 per koinnya. Disusul dengan Tether yang turun tipis sekali 0,02 persen ke harga 1 US dollars setara dengan Rp. 14.500 per koin.

Cardano ikut melemah 0,74 persen ke 1,24 US dollars atau Rp. 17.980 per koin, Ripple juga mengalami penurunan sekitar 0,39 persen ke 0,6119 US dollars setara dengan Rp. 8.873 per koin.

Harga Kripto Menurun Namun Binance Coin Masih Tetap Konsisten Menguat

Berdasarkan data yang diperoleh dari CoinMarketCap pukul 11.58 WIB, dari total tujuh kripto terbesar saat ini, hanya ada satu kripto yang masih konsisten menguat, yaitu koin digital Binance Coin.

Binance Coin ini meningkat tajam hingga 5,29 pesen ke level 320,68 US dollars atau setara dengan Rp. 4.649.860 per koin. Pada perdagangan hari Kamis, 15 Juli 2021 kemarin, pelemahan dari Bitcoin ini menjadi yang terbesar sejak 10 hari terakhir.

Bictoin terlihat selalu mengikuti pergerakan dari pasar saham skala global yang juga ikut melemah. Beberapa dari hasil analisa pun memperingkat kepada seluruh investor di pasar kripto bahwa saat ini pasang mungkin sudah siap untuk penurunan terbaru.

Dikutip dari CoinDesk, Lennard Neo selaku kepala penelitian untuk Stack Funds menjelaskan bahwa Bitchoin memang tampak sedang rapuh, kecuali kita bisa melihat pada garis break yang bergerak ke arah positif, namun cenderung sulit mengasumsikan bakalan naik kembali.

Pengaruh Negatif dari Dollars Digital Pada Pasar Kripto

Jerome Powell selaku Kepala bank sentral Amerika Serikat yang berpidato dihadapan Kongres AS pada hari Rabu lalu di tengah prospek inflasi yang begitu besa saat ekonomi sudah mulai resmi dibuka lagi.

Serta kemungkinan dari peluncuran dollar digital pun turut serta berdampak negatif bagi pasaran kripto yang membuatnya tampak terbebani. Meskipun demikian, bos bank sentral Amerika Serikat pun tetap meyakini bahwa kenaikan tersebut hanya bersifat sementara waktu saja.

Ia pun masih tetap mempertahankan pendapatnya dengan alasan kuat untuk pertahankan suku bunga rendah dan juga pembelian obligasi pemerintah atau Treasury bulanan hingga sebesar 120 miliar US dollars.

Masalah ini ternyata harus diwaspadai oleh para trader Bitcoin yang sedang bertaruh bahwa harga mata uang kripto akan selalu mempertahankan nilai dikarenakan daya beli dollar tengah melemah.

‘’Kami sedang mengalami inflasi yang begitu besar dari yang sudah diperkirakan sebelumnya, bahkan semua ini lebih besar dari yang telah saya harapkan, tetapi kami masih tetap berusaha untuk mengerti apakah hal tersebut bisa berlalu dengan cepat, ataukah kami perlu bertindak dengan cara lainnya.’’ Ungkap Powell dalam pidato di hadapan Kongres AS.

Di sisi yang lainnya, Powell pun tampak ragu apakah manfaat dari mata uang digital milik bank sentral ini lebih besar dibandingkan dengan biayanya.

‘’Mengatur stablecoin adalah rute yang lebih langsung, kewajiban dari kami ini adalah eksplorasi teknologi dan juga masalah kebijakan untuk beberapa tahun ke depannya, hingga kami pun berada dalam posisi yang tepat.’’ Jelas Powell yang dilansir langsung dari CoinDesk.

- sponsor -